Sepagi kabut yang tak dapat kulihat
Di balik awan kutelusuri
Sebentuk wajah begitu samar
Seperti Bayang di kegelapan
Kata demi kata hanya terlintas
Tak kutemui maksud dalam arti
Telah lama ingin ku berbagi bersamanya
Dan kini dia telah pergi selamanya
Hingga malam pun dia terdiam
Membisu dalam tidurnya
Tak sempat terucap olehnya
Salam berpisah di keheningan
Dia telah pergi bersama mimpi
menemui hidupnya yang abadi ...
Depok, 24 November 2008
26 November 2008, Ditulis Oleh M. Farid M.
Wednesday, November 26, 2008
MIMPI ABADI
Monday, November 10, 2008
Kematianku
Kematianku
Aku yang berjalan menerawangi kabut sisa-sisa malam. Kusadari aku telah memasuki dunia yang tak kusadari sebelumnya. Di saat aku termenung merasakan gelapnya sepi di malam itu. Tak mampu ku melihat seperti apa kehidupan ini. Yang kurasakan hanyalah angin yang menjamahi tubuhku yang lemah ini. Namun setelah ku berjalan beberapa langkah, ku dapati sebentuk sinar yang keluar dari celah-celah pepohonan. Di sana juga ku melihat embun pagi yang jatuh tetes demi tetes ke bumi. Begitu indah yang dapat kuungkapkan saat itu.
Setelah kuberjalan menyusuri sinar yang kudapati pagi itu, kupandang jauh di depan jalan. Ku melihat seperti fatamorgana pohon yang begitu samar. Terhampar putus-putus seakan tak berdaya. Kemudian kudekati karena rasa penasaranku. Setelah kupandang begitu dekat. Ku dapati di sana rombongan pengembala berjalan dengan hewan ternaknya untuk mencari seikat rumput yang tumbuh di hamparan pasir. Ku lihat mereka begitu lelah dalam perjalanannya yang jauh. Tetapi itulah yang harus mereka lakukan demi tujuan hidup meraka. Mungkin itulah yang dapat aku ambil hikmah dari apa yang mereka lakukan.
Kemudian aku melewati begitu panjang perjalananku untuk menempuh pencarian keberadaanku di dunia ini. Aku harus melalui sebuah moment yang sepertinya tak kusadari sebelumnya. Aku harus menemui senja yang kukagumi keberadaannya. Dari senja itulah, aku harus dapat memetik beberapa pelajaran yang mungkin kumengerti dalam ketidak tahuanku selama ini. Karena dengan itulah, kuperoleh untuk bekal malam nantinya. Di mana dalam malam itu, semua kehidupan yang kudapati itu akan terasa sepi, hening, gelap jikalau tanpa bekal yang harus dibawanya. Dan dalam malam itu, aku hanya dapat termenung merasakan apa yang telah terjadi. Di saat malam yang penuh keheningan, aku hanya dapat mendengar suara lirih yang asing di telingaku. Mungkin itu adalah bisikan malaikat yang tak pernah kudapati bentuk dan wujudnya. Namun dengan bisikan lirih itu yang membuat kumengerti bahwa kelak akan terjadi sesuatu yang mungkin tak kusadari. Yaitu Kematianku.
11 November 2008, Ditulis Oleh M. Farid M.
Monday, April 21, 2008
Lir - ILIR
Lir – ilir
(diambil dari syair Sunan Kalijogo)
Oleh Kyai Kanjeng, Emha Ainun Najib
Lir - ilir, lir - ilir tandure wus sumilir
Tak ijo royo - royo tak senggo temanten anyar
Tak senggo temanten anyar
Bocah angon – bocah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu – lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro
Kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro – dodotiro kumitir bedhah ing pinggir
Dondomono jrumatono kanggo sebo mengko sore
Kanggo sebo mengko sore
Mumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane
Yo surako ...
Surak hiyo ...
Terjemahan dalam bahasa Indonesia adalah kira – kira sebagai berikut :
Ayo bangun (dari tidur), tanam – tanaman sudah mulai bersemi,
Demikian menghijau bagaikan pengantin baru
Bagaikan pengantin baru
Wahai anak gembala, panjat dan ambillah buah belimbing itu,
Walaupun licin – licin tetap panjatlah untuk mencuci pakaian
Untuk mencuci pakaian
Pakaian – pakaian yang telah koyak atau rusak sisihkanlah
Jahit dan benahilah untuk menghadap nanti sore
Untuk menghadap nanti sore
Mumpung sedang terang bulan, mumpung sedang banyak waktu luang
Mari bersorak – sorak
Sorak ayo ...
Maksud syair tersebut kira – kira seperti ini :
Bangun, bangunlah ke alam pemikiran baru. Lihatlah tanaman yang mulai bersemi itu. (Tanaman yang mulai bersemi adalah benih iman. Secara hakikat, Allah sudah mengisi setiap manusia dengan benih – benih kebaikan. Namun semua tinggal manusianya, ada yang merawat dan ada juga yang mengacuhkannya). Hijau adalah warna perlambang agama Islam yang saat itu kemunculannya bagaikan pengantin baru dan sangat menarik hati.
Bocah Angon atau anak Gembala ini diibaratkan sebagai para penguasa atau pemimpin yang ”menggembalakan” rakyat. Para penguasa itu disarankan untuk ”mengambil” buah Belimbing atau agama Islam. (Disimbolkan dengan buah belimbing yang mempunyai bentuk segi lima sebagai lambang rukun Islam, yaitu Mengucapkan Dua Syahadat, Sholat Lima Waktu, Puasa di Bulan Ramadhan, Zakat Fitrah, Menunaikan Ibadah Haji bagi yang mampu). Walau licin, susah, tetapi usahakanlah tetap memanjat pohon belimbing itu agar dapat masuk Islam demi mensucikan ”Dodot”. (Dodot adalah jenis pakaian tradisional Jawa yang sering dipakai pembesar jaman dulu. Bagi orang Jawa, agama adalah ibarat pakaian, maka dodot dipakai sebagai lambang agama atau kepercayaan).
Pakaianmu, (yaitu) jika agamamu sudah rusak maka jahitlah (perbaiki), sebagai bekal menghadap Tuhanmu. Selagi ada cahaya terang yang menuntunmu, selagi masih hidup dan masih ada kesempatan bertobat untuk memperbaiki agamamu.
Bergembiralah dan berimanlah, semoga kalian mendapat anugerah dari Tuhan ...
Friday, April 4, 2008
Kehadiran Ilmu
Mencarinya adalah suatu kebaikan
Menuntutnya adalah suatu ibadah
Mempelajarinya adalah suatu ketasbihan
Mengkajinya adalah suatu jihad
Mengajarkannya adalah suatu sedekah
Membelanjakannya adalah suatu qurban
Penghibur dalam kesendirian
Sahabat dalam kesepian
Petunjuk dalam suka duka
Pembantu lain sahabat karib
Teman di sisi kawan
Penerang jalan surga
Kehidupan hati dari kebutaan
Cahaya mata dari kezaliman
Kekuatan tubuh dari kelemahan
5 April 2008, Ditulis oleh M. Farid M
Soekarno : “Berpidato Hari Itu”
Suatu kutipan dari pidato-pidato Presiden Soekarno, “Berpidato Hari Itu” :
“Berilah saya seribu orang tua. Saya bersama mereka kiranya dapat memindahklan gunung semeru”. Tetapi apabila saya diberi sepuluh pemuda yang bersemangat dan berapi-api kecintaannya terhadap bangsa dan tanah air tanah tumpah darahnya, saya akan dapat menggemparkan dunia.
Ini adalah peperangan, suatu perjuangan untuk hidup. Ini bukanlah soal keteguhan pendirian dengan generasi yang akan datang ataupun suatu kehormatan bagi saya dari pergerakan, sehingga tingkatan yang lebih bawah dapat memegang teguh prinsip-prinsip yang telah dikurangi setelah pemimpin mereka masuk bui. Kehormatan tidaklah pada tempatnya dalam perjuangan mati-matian ini. Ini adalah semata-mata persoalan kekuatan.
“Politik adalah pembentukan kekuatan dan pemakaian kekuatan. Ini sangat radikal”. Dengan tenaga yang terhimpun kita dapat mendesak masuk ke pojok dan kalau perlu menyerangnya. Mempersiapkan teori dan membuat keputusan kebijaksanaan penting yang berasal dari buku-buku tidaklah praktis. Saya khawatir, saudara berpijak di atas landasan revolusioner yang khayal.
Mengapa sebuah gunung seperti gunung Kelud meledak? Ia meledak oleh karena lubang kepundannya tersumbat. Ia meledak oleh karena tidak ada jalan bagi kekuatan-kekuatan yang terpendam itu bertumpuk sedikit demi sedikit dan ………. DORRR!!!! Keseluruhan itu meletus.
“Apa gunanya kita puluhan ribu orang berkumpul di sini. Jikalau yang kita kerjakan hanya menghasilkan petisi?”. Sampai sekarang kita tidak pernah menyerang. Gerakan kita bukan gerakan mendesak, akan tetapi gerakan kita adalah gerakan meminta-minta, mengemis-ngemis. Dan tak satupun yang pernah diberikan Pemerintah karena iba kasihan. Sekarang dengan suara meledak. ”Marilah kita sekarang menjalankan politik percaya pada diri sendiri dengan tidak mengemis-ngemis. Hayo kita berhenti mengemis. Sebaiknya, hayo kita berteriak. Tuan Imperialis, inilah yang kami “TUNTUT”.
“Kalau kita tidak berani mengubah sejarah. Kita akan selalu menjadi orang kalah. Negeri yang kita miliki, hanya akan menjadi milik orang lain.”
“Setiap revolusi sudah berarti pemberontakan. Pemberontakan terhadap tata nilai”. Mungkin juga suatu revolusi di Hindia Belanda tidak perlu melahirkan pertumpahan darah. Kami berikan pengertian pada
Arti Kemerdekaan politik adalah Kemerdekaan yang seluas-luasnya, terlepas dari bangsa lain. Kemerdekaan harus kami capai dengan organisasi
4 April 2008, Ditulis oleh M. Farid M
